2018-08-02

Rakor Pengembangan Sagu Papua

BPTP PAPUA
...

Dr. Ir Niki E Lewaherilla dan Adnan, MSi menghadiri rakor pemberdayaan masyarakat Papua terkait komoditi sagu pada hari Kamis tanggal 2 Agustus 2018. Rakor dipimpin oleh Penjabat Gubernur Papua, Soedarmo dan dihadiri para Bupati serta dinas terkait di Sasana Karya Kantor Gubernur Dok II Jayapura.

Dalam sambutannya, Penjabat Gubernur Papua menyampaikan bahwa pada setiap kesempatan rapat dan pertemuan lain hendaknya menggunakan bahan pangan asli papua seperti olahan sagu. Terasa kurang tepat jika pada koordinasi untuk mengembangkan sagu tetapi pangan yang disajikan bukan dari sagu.

Selanjutnya, Penjabat Gubernur Papua menekankan ada perbedaan penanganan sagu di Papua dengan daerah lainnya di Indonesia. Sagu di Papua merupakan sagu alam, tidak dibudidayakan sehingga keragaman tinggi. Juga lahan sagu dimiliki oleh masyarakat adat. Kondisi ini perlu menjadi perhatian untuk pengembangan sagu di Papua.

Sagu diarahkan untuk memenuhi kebutuhan lokal terlebih dahulu seperti konsumsi papeda dan kue sagu. Jika sudah memenuhi lokal, baru diusahakan untuk ekspor. Untuk mencapai hasi tersebut, dibutuhkan persepsi yang sama serta kerjasama yang baik antar instansi, dari hulu ke hilir. Kesempatan ini, pengembangan sagu juga bersamaan dengan pengembangan kopi. Tema besar yang hendak diangkat adalah minumnya kopi Papua, snacknya sagu

Kemudian, rakor dilanjutkan dengan membuka kesempatan dari Bupati dan Dinas terkait untuk memberikan pertanyaan dan pernyataan, untuk memahami permasalahan sagu dan mencari jalan keluarnya. Beberapa hal yang disampaikan adalah seperti sagu merupakan jati diri masyarakat papua, jadi perlu ada perhatian serius untuk mengangkat komoditi ini. Selain itu juga diskusi mengenai berapa banyak pati yang akan diproduksi, serta langkah apa yang harus ditempuh oleh dinas terkait untuk mencapai target tersebut. Masyarakat tidak cukup hanya diajari cara menanam sagu, tetapi perlu juga dilatih untuk pengolahan produk dan pemasarannya. Permasalahan lainnya adalah disparitas harga yang cukup jauh antara sagu Papua. Sebagai contoh, sagu kering Meranti di lokasi hanya Rp 6 ribu per kg.

Berdasarkan pengalaman, solusi berupa pemberian bantuan seperti kilang pengolahan sagu tidak begitu berhasil. Terdapat banyak faktor penghambat seperti kapasitas kilang sagu yang tidak sesuai, ketersediaan air bersih untuk pengolahan, masyarakat tidak bias mengoperasikan alat sehingga pada akhirnya banyak kilang yang berhenti produksi.

Untuk mengatasi fakta yang ada di lapang tersebut, Pemerintah Provinsi Papua berencana untuk menggelar Rencana Aksi Pengelolaan Sagu dalam rangka peningkatan ekonomi daerah, memperbaiki taraf hidup masyarakat serta mewujudkan ketahanan pangan nasional. Sebagai tindak lanjut, Dinas terkait akan segera menyusun dokumen rencana aksi pengembangan sagu untuk dikerjakan secara berbagai pihak.

Sebagai penutup rakor, disajikan menu makan berupa papeda, umbi-umbian lokal, ikan kuning dan ikan asap. (Adnan, SP. M.Si.)

Sub Sektor : Sagu
Komoditas : Perkebunan
Teknologi yang Digunakan :